Sebelum Married, Dara Diperawani Dahulu Dengan Dildo

Senin, Februari 22nd 2016.

black dildoEra sekarang calon pengantin perempuan banyak yang telah direnggut kevirginannya oleh calon suaminya maupun bekas kekasihnya. Itu dapat hubungan satu malam maupun sebab memakai dildo. Tetapi, kebanyakan budaya era dahulu malah menyerahkan kegadisan perempuan dengan dildo.

Charles Panati dalam Buku Berjudul Seks Origins and Intimate Things menuturkan, Nicholas Venette menuliskan terdapat beberapa praktik budaya memerawani perempuan dengan dildo yang di temukan padaera dahulu.

“Saya tidak kagetbila orang Venesia dilaporkan anak perempuannya diperawani seorang laki-laki sebelum married. Dah saya pun enggak kaget bila Armenia memerawani perempuannya di sebuah kulit Anaitis supaya organ genital perempuannya kian sesuai serta menyenangkan saat di ranjang pernikahan,” tulis Venette.

Berikut beragam budaya di seluruh penjuru dunia yang memakai dildo di masa dahulu :

1. Dildo Batu yang Keras

Pada masa Yunani Kuno, seorang perempuan yang telah umurnya menikah, dalam sebuah upacara selaput daranya ditembus dildo batu oleh Dewa Kesuburan Yunani Priapus. Dara yang telah menjalani upacara itu sudah married dijamin mempunyai banyak anak sebab pacar pertamanya Priapus

Priapus sudah meminjamkan namanya buat kondisi medis yang dikenal dengan nama priapism, ereksi yang me-nyakit-kan yang tidak akan mereda sebab darah tidak meng-alir dari penis.

2. Dildo Kayu

Di Roma Kuno, dildo kayu yang telah diampelas dari Dewa Kesuburan Liber umumnya dipakai dalam upacara memerawani calon pengantin perempuan.

Setiap tanggal 17 Maret me-rupa-kan hari perayaan, enam dildo dari kayu dipasang di gerobak serta ditarik lewat jalan-jalan sebagai pe-raya-an Liberalia.

Massa mengikuti dildo kayu tersebut dengan seorang dara yang dipimpin seorang ketua dinobat-kan sebagai model dengan karangan bunga.

Ketika upacara, pengantin baru tersebut akan di undang duduk di atas Dewa Priapus. Memang tindak-an pengantin perempuan tersebut nampak enggak sopan, tetapi kesuburannya tidak akan direnggut, begitu juga dengan ke-perawanan-nya.

Perawan tersebut dapat me-ningkat-kan kesuburannya sebelum menikah dengan makan roti ter-tentu yang dinamakan dengan coliphia serta siligonum. Wujudnya tersebut seperti kelamin laki-laki serta perempuan.

Di era Yunani Kuno serta Roma, dildo kayu sering memakai sarung kulit. Kulit tersebut dapat bercorak terang ataupun dicelup dengan corak hitam. Tetapi, kebanyakan dildo diwarnai hitam sebab kepercayaan masa dulu menyebutkan pria hitam seakin diberkati dibanding laki-laki berkulit putih.

3. Dildo Gajah

Dildo buatan ini ber-lanjut sampai Abad ke-19 di antara orang Afrika, ter-utama di Uganda.  Raja di sana akan merasa sangat ter-hina bila dia di tawar-kan pengantin perawan yang selaput dara-nya masih lengkap.

Darah di dalam per-nikahan menurut takhayul tersebut ber-bahaya, sebab darah yang muncul dari selaput dara dilihat sebagai sebuah kemalangan. Supaya tidak ber-darah lagi ketika berhubungan sex, sebelum married selaput dara perempuan tersebut harus telah pecah oleh artefak mr. P oleh orang yang dianggap paling saleh di suku maupun orang asing yang di bayar jasa-nya.

Tetapi, itu semua ter-gantung orangnya apakah mau kegadisannya direnggut dengan dildo maupun laki-laki tersebut sendiri. Penis palsu tersebut umumnya terbikin dari besi, batu, maupun gading serta kerap dihiasi dengan gambar seorang dewa ke-subur-an.

Pilihan merenggut kegadisan itu bukan bermakna me-rampok-nya dari dara perawan, namun membikin permpuan tersebut kiabn suci di mata suami-nya.

4. Dildo Pisang

Perempuan Arab serta Polinesia memakai pisang mentah sebagai dildo. Pisang pun dipakai sebagai dildo di beberapa budaya sebab buah-buahan ini mempunyai nuansa seksualitas yang kuat.

“Pisang kulit-nya lembut serta halus, yang melebar-kan mata dara-dara muda,” ungkap Charles Panati.

Informasi mengenai produk alat bantu sex toys terbaru hubungi kami di 085311726777 Pin BBM DA7E3A23

Share